"Tuh, lihat tuh! Ayo lihat!"
Lila diam. Dia termangu menatap cermin didepannya.
"Lihat, kataku! Huh! Kamu pikir dengan tampang seperti itu, lelaki seluruh dunia akan memburu kamu, begitu?!"
Lila masih diam. Bayangan di cerminnya menampakkan muka yang geram.
"Coba ya, ngaca. Ngaca! Lihat tuh rambut kamu! Katanya sih, mau ikut-ikut model sixties, tapi hasilnya, seperti jenggot kambing! Lila, Lila. kamu tidak pantas punya rambut model itu. Uh, nekad!"
Kini muka Lila berubah. Kaget, bingung. Ah, masa sih, dia tidak pantas. Ia bengong saja menatap cerminnya sementara bayangannya itu tetap memperoloknya.
"Terus kamu makin nekad lagi cukur-cukur alis. Kenapa tidak dibotak saja sekalian?!"
Ah, lagi-lagi Lila menatap wajahnya lekat-lekat. Apa benar ia sejelek itu?
"Lila, pikir ya. Maksud kamu apa sih? Sudah berkali-kali aku katakan, kamu tidak pantas. Kamu lebih bagus dengan rambut yang biasa-biasa saja. Dengan alis yang biasa-biasa saja. Biar saja orang lain mengikuti mode. Mereka pantas. Kalau kamu? Huh, jangankan bagus. Mendingan saja tidak! Lalu sekarang kalau sudah jelek begini, kamu bisa apa?"
Lila menunduk. Sebenarnya ia kesal juga dibentak seperti ini.
"Eh, dibilangin kok nunduk gitu, sih? Sekarang coba katakan, maksud kamu apa? Mau cari-cari perhatian, ya? Biar orang seluruh dunia tahu kalau kamu, Liliani Putiani, adalah perempuan paling cantik sejagat. Paling hebat. Paling dipuji-puji. Paling dikejar-kejar. Begitu, ya? Heh, Lila. Orang tidak akan menilai dari model rambut kamu atau bentuk alis kamu, tau! Yang penting ini, nih!" Ia berkata sambil menunjuk dahinya dengan telunjuknya.
O, Lila kini sudah berkaca-kaca matanya. Pasti sebentar lagi akan keluar butiran-butiran air mata.
"Aih, aih. Sekarang mau nangis, lagi. Uuugghhh!", bayangan itu menggeram sambil menarik-narik rambutnya, "Sebel! Sebel! Sebel! Kenapa sih, aku menjadi bayangan tuan puteri yang suka pamer ini! Yang suka dandan. Ya Tuhan, Tuhan, Salahku apa sih? Benci aku setiap kali ia datang ke cermin ini dan mulai berdandan. Gayanya itu, loh!"
Nah, kini bibir Lila sudah bergetar kecil. Sebentar lagi...
Oh, dia mulai menangis. Rupanya ia tak tahan lagi dengan olok-olokan bayangannya sendiri.
"Ya ampuuunnn!! Nangis!! Orang ini kalau dibilangin hanya nangis! Bukannya coba instrok... eh... introspeksi diri, malah nangis. Uuuuhhh! Aku sebaaalll!" Bayangan itu menarik-narik rambutnya, menhentak-hentak kakinya pada lantai cermin, lalu akhirnya ia mengepalkan tinjunya sambil berkata geram, "Hei! Sudah diam! Lila!" mengepalkan tinjunya sambil berkata geram, "Heh! Sudah, diam! Lila!"
Tapi Lila masih menangis. Sesenggukannya makin jadi.
"Uuuuhhh! Sudahlah! Aku bosan menjadi bayanganmu! Bosaaannnn! Kerjanya hanya dandaaannn terus. Dikritik sedikit, nangis. Pokoknya, aku akan pergi, dan tidak akan kembali. Biar aku cari orang yang kerjanya bukan hanya dandan. Orang yang berpikir kalau di dunia ini ada banyak pekerjaan selain berdandan. Orang yang pakai otak! Bukan seperti kamu! Huh!" Lila kaget. Ia mendongakkan kepalanya. Lalu ia melihat bayangan itu memegang bingkai cermin dengan tangannya dan menjulurkan muka dan tubuhnya keluar cermin. Wajahnya yang geram tiba-tiba saja berjarak dua senti dari wajah Lila. Refleks Lila mundur. Lalu dengan sedikit susah payah ia mengeluarkan salah satu kakinya dari cermin dan kemudian berpijak pada lantai kamar Lila. Tak lama kaki kedua menyusul.
Ketika ia telah berpijak pada lantai kamar Lila, ia melengoskan tubuhnya ke arah tubuh Lila dan berkata dengan geram, "Awas kalau kamu mencoba cari-cari aku!" Lalu ia pergi sambil menghentakkan kakinya.
Lila menangis. Ia menunduk, lebih dalam. Air matanya keluar makin deras. Hatinya makin sedih. Oh, oh...kini dia tidak punya bayangan lagi. Lalu, siapa yang akan mengatakan bahwa ia sudah cantik bila bercermin nanti?
Kapan perempuan pernah merasa cantik?
Maaf ya mba Uji Arum Ismartini, hn copas dari novel SIRKUS EMOSI 10 TAHUN TULISAN TANGAN. Soalnya suka banget sama ceritanya kalo kita mending jadi diri sendiri daripada jadi korban mode yang ga pantes buat kita. Sekali lagi maaf ya mba.
(Sumber gambar mbah google)

0 komentar:
Posting Komentar