Pages

Aku Ingin Amnesia Saja!

Dan akhirnya aku pun tertunduk lemas di antara rak-rak buku raksasa itu. Entah apa yang membuat aku begitu terpukul, izinkan aku amnesia. Aku ingin melupakan hal yang baru saja aku lihat.

Siang itu, aku sengaja menjauh dari teman-teman karena aku ingin sendiri. Entahlah, sesudah makan di kantin kampus, aku tiba-tiba ingin ke perpustakaan. Sekedar melepas penat karena kuliah, pikirku waktu itu. Karena disanalah aku bisa tenang, tanpa ada yang mengganggu. Aku pergi ke perpustakaan. Disana aku hanya mengambil beberapa buku yang aku sendiri tidak tahu ingin membacanya atau tidak. Aku duduk di kursi baca dekat jendela, karena disana adalah tempat yang paling nyaman buat aku. Aku mulai membaca cepat buku-buku itu. Tidak semuanya. Aku lelah membaca, aku melamun melihat keluar. Memikirkan apa yang terjadi denganku saat ini. Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku berada disini. Jauh dari keramaian.
Setelah aku bosan berada disana, aku kembalikan buku itu ke rak meskipun aku bisa saja menggeletakkannya di meja. Tapi aku ingin mengembalikannya sendiri. Sudah ku bilang, aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang.
Aku mencari rak buku yang tadi, satu per satu. Belum selesai aku menyimpan semua buku yang aku ambil tadi, aku melihat dua orang disana. Apa yang sedang mereka lakukan? Mereka berciuman diantara rak-rak buku raksasa. Aku terpukul melihatnya. Aku ingin amnesia saja. Tuhan, mengapa Kau memperlihatkan ini padaku? Tolong buat aku melupakan semua yang aku lihat tadi. Orang yang selalu aku banggakan tega melakukan itu. Aku ingin amnesia saja!

"Kamu Arli kan?"
"Iya. Kamu siapa ya?"
"Aku Rendi. Boleh duduk disini?"
"Silakan." 
Itulah awalnya aku kenalan dengan Rendi, mahasiswa yang satu tahun lebih tua dari aku, seorang calon arsitektur yang sekarang menjadi asisten dosen. Kami bertemu di perpustakaan. Entah dari mana dia tahu namaku. Kami disana ngobrol-ngobrol, meskipun baru kenalan tadi, aku sudah merasa akrab dengannya. Beberapa bulan ini, aku dekat dengan Rendi. Dia menjemputku kalau aku mau kuliah, menungguku selama kuliah bahkan mengantarku pulang. Kami sering jalan-jalan semenjak itu. Dan suatu hari, dia menyatakan cintanya padaku. Aku senang. Dari itu, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling beruntung.

Tapi semuanya sudah berakhir. Aku memutuskannya saat ini. Saat aku melihatnya dengan perempuan lain yang aku kenal. Saat yang tak ingin aku ingat. Aku ingin amnesia saja!

0 komentar:

Posting Komentar